
Banyak Chef dari Indonesia yang bekerja di luar negeri, saat dimintai masakan khas Indonesia justru tidak mampu menyajikannya, hal tersebut, karena selama ini mereka mendapat bekal ilmu kuliner hanya berkiblat ke Negara Barat dan Eropa, oleh sebab itu Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Trisakti bersama Himpunan Mahasiswa Kuliner (HMK), menggelar Work Shop dengan tema “Kuliner Indonesia Dimata Dunia”. Acara tersebut diisi oleh pembicara Chef Windek Tangker (Eksekutif chep Season Hotel) dan Chef Klana (Eksekutif Chef Chardamon Restoran), serta Bondan Pambudi (STP Trisakti).
Menurut Chef Klana yang ditemui wartawan seusai menyampaikan makalah mengaku, bahwa masyarakat dunia sebenarnya sudah banyak mengenal kuliner Indonesia, seperti Sop Buntut, Nasi Goreng, Soto, Sate serta Gudeg, bahkan menu tersebut juga sudah disajikan di hotel-hotel berbintang di Negara lain, hanya saja perkembangan kuliner di Indonesia sangat lambat, hal tersebut disebabkan karena pembangunan pertanian di Indonesia masih sangat memprihatinkan, sehingga orang lebih condong untuk bertahan dengan menunya, daripada mengembangkan jenis kuliner lebih jauh, oleh sebab itu Pemerintah kedepan juga harus meningkatkan kualitas pertanian di Indonesia.
Kepercayaan para Turis Asing terhadap makanan jajanan pedagang kakilima juga sangat rendah, karena mereka menilai bahwa 92% makanan yang dijajakan para pedagang tidak higienis, dan membahayakan kesehatan manusia, sehingga mereka lebih memilih makan dengan kembali ke hotel berbintang, daripada jajan disembarang tempat, oleh sebab itu peran Departemen Kesehatan maupun Badan POM sangat dibutuhkan, untuk membangun kepercayaan wisatawan pada masakan tradisional Indonesia, tegasnya.
Chef Klana mengaku, bahwa untuk menjadikan masakan Indonesia bisa digemari para Turis Asing, atau mampu disajikan di hotel berbintang, maka perlu adanya upaya adaptasi makanan tradisional menjadi makanan internasional, Para mahasiswa kedepan perlu mengembangkan makanan hasil cipta budaya tersebut, bagaimana para koki mampu mengembangkan masakan tradisional, menjadi masakan baru, dengan bahan yang baru, bagaimana para chef di restoran lebih kreatif untuk menciptakan menu baru, saya yakin, para mahasiswa kuliner mampu menciptakan masakan baru, chef tidak hanya di hotel, namun di Restoran bahkan Rumah Sakit-pun membutuhkan chef yang menguasai tentang ilmu gizi, pinta Chef Klana.
Sementara Ketua Himpunan Mahasiswa Kuliner, Tirta Chandra Putra Pane menambahkan, bahwa Work Shop yang digelar merupakan bentuk kepedulian kita pada makanan asli Indonesia, karena makanan ini juga sebagai bagian dari budaya bangsa Indonesia, dan kegiatan ini akan ditindaklanjuti dengan Work Shop tentang kue-kue tradisional, karena sebenarnya masih banyak makanan asli Indonesia yang belum dikenal masyarakat secara luas, baik di dalam negeri maupun diluar negeri, oleh sebab itu HMK bersama STP Trisakti terus berupaya menggali makanan tradisional, agar bisa diterima masyarakat internasional, bahkan kita akan gelar lomba yang diikuti oleh anggota HMK, dimana didalamnya adalah beberapa mahasiswa dari berbagai perguruan tingi Pariwisata, kita akan geram bareng-bareng untuk peduli, agar kita memiliki tanggung jawab bersama untuk melestarikan dan mengembangkan kuliner Indonesia, tegas Tirta
0 komentar:
Posting Komentar